Dari miliyaran debu bintang, serpihannya tertanam menjadi bagian benakku.
Sebelumnya aku berkata bahwa potretan wajah cantikmu itu mendekam di dalamku. Lajur waktu yang kian menua membuat aku sadar, bagian bintang yang membentuk dirimu tidak terlukis begitu saja.
Barangkali bintang itu saudari identik Sirius—sebab rasaku, cantiknya dirimu tidak mungkin dilahirkan dari bintang yang sederhana.
Bila kehendak semesta demikian, aku rasa aku ingin menjadi astronom hebat, karena aku ingin menelisik kecantikan milikmu itu. Atau mungkin arkeolog, sebab kusangka, cantik—mu itu kuno, karena indah tak mungkin diciptakan dari serpih waktu.